Download Novel & Film AAC :

Download Novel AAC

Ini adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa. Ini tentang bagaimana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir.

Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah.

Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan mahluk bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Neneknya, Ibunya dan saudara perempuannya.

Betul begitu? Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah. Tersebutlah Maria Girgis. Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran. Dan menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja.

Lalu ada Nurul. Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak.

Setelah itu ada Noura. Juga tetangga yang selalu disika Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.

Terakhir muncullah Aisha. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.

Lalu bagaimana bocah desa nan lurus itu menghadapi ini semua? Siapa yang dipilihnya? Bisakah dia menjalani semua dalam jalur Islam yang sangat dia yakini?
======================================================


Ayat – ayat cinta (AAC) memang sangat menarik untuk dilihat atau dibaca.. untuk saat ini saja sudah 2
,6 juta penonton dan Manoj Punjabi sang Produser menyatakan Optimis kalo Film ini bakal menembus penjualan tiket sampai 7 juta
terlepas dari Pro – Kontra film ini, penulis berharap AAC dapat menambah gairah perfilman indonesia.

Komentar terhadap film ini:
1. Hanung Bramantyo : Dari India menuju Jakarta
2. Hasan Junaidi : Kejanggalan film ayat-ayat cinta
3. Deteksi : Midnight ayat-ayat cinta
4. David : Film ayat-ayat cinta
5. Scooter : Film ayat-ayat cinta = buruk

Sleep Walking Murder dan Penerapannya di Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembunuhan merupakan delik pidana yang sering kita dengar dan mungkin saksikan. Sering kita baca ataupun mendengarnya di media masa maupun media elektronik mengenai delik tersebut. Dan sepertinya delik tersebut tidak pernah ada habisnya, padahal hukuman yang dapat diberikan tergolong sangat tinggi.

Sebagaimana dalam pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) berbunyi: “Barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunnuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.” Dan pasal 340 KUHP berbunyi: “Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lam dua puluh tahun.

Namun, tidak semua delik pembunuhan dapat dipidana, baik dengan menggunakan ketentuan KUHP maupun undang-undang lainnya. Pembunuhan yang dilakukan baik secara sengaja, kealpaan, maupun percobaan dapat dipidana. sedangkan pembunuhan yang dilakukan karena cacatnya jiwa atau terganggu karena penyakit, tidak dapat dipidana. (pasal 44 (1) KUHP)

Pembunuhan yang tidak dapat dipidana juga sering kita dengar terjadi di Indonesia yang biasanya disebabkan oleh cacatnya jiwa atau yang biasa disebut gila. Namun, ada sebuah kasus dimana pelaku pembunuhan tidak dapat dipidana dengan alasan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan dalam keadaan tidur (automatism).

Kasus tersebut belum pernah terjadi di Indoensia, namun beberapa kasus seperti di Inggris dan Amerika bisa dijadikan sebagai acuan atau contoh penerapannya di indonesia jika kasus seperti ini terjadi.

1.2 Perumusan Masalah

Agar penelitian ini tidak keluar dari inti permasalahan yang akan dibahas, dan agar tidak terjadi kesalahan penafsiran maka penulis membatasinya dengan memberikan permasalahan sebagai berikut:

1. Apakah keadaan – keadaan yang membuat pelaku pembunuhan menurut hukum pidana di Indonesia tidak dapat dipidana?

2. Bagaimanakah cara untuk membuktikan seseorang telah melakukan pembunuhan dalam keadaan tidur / sleep walking murder?

3. Bagaimanakah mekanisme penyelesaian jika kasus sleep walking murder terjadi di Indonesia?

4. Apakah tindakan yang harus diambil agar si pelaku tidak melakukan perbuatan serupa?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui keadaan-keadaan yang membuat pelaku pembunuhan menurut hukum pidana di Indonesia tidak dapat dipidana;

2. Untuk mengetahui cara untuk membuktikan seseorang telah melakukan pembunuhan dalam keadaan tidur;

3. Untuk mekanisme penyelesaian jika kasus sleep walking murder terjadi di Indonesia;

4. Untuk mengetahui tindakan / langkah yang harus diambil agar kasus serupa tidak dilakukan lagi oleh pelaku.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Keadaan – keadaan yang membuat pelaku pembunuhan tidak dapat dipidana menurut hukum pidana Indonesia

Indonesia sebagai negara hukum, tentunya menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia sebagaimana yang tertuang dalam BAB XA Undang-Undang Dasar 1945 (UUD’45)* yang secara khusus mengatur mengenai hak asasi manusia, dan ini memiliki konsekwensi bahwa setiap pelanggaran terhadap hak asasi manusia harus dihukum dan dihentikan terutama berkaitan dengan hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya.

Secara umum, kejahatan maupun pelanggaran terhadap hukum pidana Indonesia, akan mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

KUHP merupakan upaya penyeragaman pada hukum pidana yang dapat dijadikan acuan dasar dalam penghukuman pidana yang dapat diberlakukan bagi seluruh rakyat Indonesia. Begitupula dengan ketentuan-ketentuan mengenai siapa yang dapat atau tidak dapat dipidananya seseorang atas kejahatan yang dilakukannya.

Maka berdasarkan pada KUHP, hal – hal yang menghapuskan pengenaan pidana adalah sebagai berikut:

1. Karena tak mampu bertanggung jawab. Dalam pasal 44 (1) KUHP menyatakan bahwa:

“Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya, disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau terganggu karena penyakit (ziekelijke storing), tidak dipidana. Dan ayat ke – (2) menyatakan: “jika ternyata bahwa perbuatan tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau karena gangguan penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan.

2. Pembelaan terpaksa. Yaitu keadaan dimana orang melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum karena adanya ancaman yang serius yang dapat membahayakan dirinya maupun orang lain, terhadap kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain.

3. Dilakukan karena melaksanakan perintah undang – undang. Misalnya: eksekutor tembakan mati.

Jika kita membaca ketentuan diatas tersebut, maka dapat diartikan bahwa kejahatan hanya dapat dimintakan pertanggung jwabannnya bagi orang yang sehat dan karena adanya kehendak dari diri sipelaku untuk melakukan perbauaan tersebut,dan bukan karena adanya daya paksa. ‘Sehat’ disini bisa berarti jiwanya, maupun tubuhnya. Mengenai sehat jiwanya berarti bahwa pelaku kejahatan tidak dapat dipidana jika ternyata secara medis dinyatakan gila, atau keadaan – keadaan lain yang berdasarkan diagnosa dokter, kejahatan tersebut dilakukan diluar kesadaran si pelaku.

Lalu, bagaimana jika dalam kasus seperti yang dilakukan Jules lowe ?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus mengetahui lebih jauh terlebih dahulu mengenai kasus yang dilakukannya. Jules lowe merupakan pria Inggris yang melakukan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, namun pada persidangan yang dilakukan di negaranya Inggris, dia mengakui bahwa telah menyerang ayahnya pada saat dia sedang tidur dan tidak ingat detail dari insiden tersebut, karena dalam keadaan tidur. Dr Irshaad Erbrahim, Direktur London Sleep Centre membenarkan ucapan Lowe. Ia bersama timnya telah melakukan pengujian sebelum pengadilan digelar.

Jika kita kembalikan lagi ke pasal 44 KUHP, maka dapat kita analogikan bahwa pembunuhan yang dilakukan dalam keadaan tidur, tidak dapat dipidana. Analogi tersebut dapat kita ambil dari kalimat pada pasal 44 (1) yang berbunyi: “perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya, disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau terganggu karena penyakit.”

Berdasarkan pada kalimat tersebut, maka penulis berkesimpulan bahwa pembunuhan yang dilakukan dalam keadaan tidur tidak dapat dipidana. Karena perbuatan tersebut dilakukan tanpa adanya kesengajaan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 338 KUHP maupun 340 KHUP.

2.2 Pembuktian pembunuhan dalam keadaan tidur / sleep walking murder

Pembunuhan yang dilakukan dalam keadaan tidur sambil berjalan, kemudian menyerang orang lain, haruslah dibuktikan apakah benar bahwa perbuatan tersebut dilakukan dalam keadaan tidur. Untuk membuktikannya, harus disertai keterangan medis yang menyatakan bahwa pelaku benar-benar dalam keadaan tidur pada saat pembunuhan tersebut dilakukan serta memiliki riwayat tidur sambil berjalan / sleep walking.

Sama halnya dengan yang dilakukan dalam kasus lowe. Dimana tim medis yang diketuai oleh Dr Irshaad Ebrahim, Direktur London Sleep Centre yang melakukan serangkaian pengujian yang disebut polysomnograph sebelum pengadilan digelar. Pengujian tersebut digunakan untuk mempelajari kelainan tidur Lowe, seperti misalnya gelombang otaknya, aktivitas otot dan pernapasannya, termasuk faktor lain seperti alkohol dan stres yang diketahui bisa memicu episode sleepwalking murder.

Lowe memiliki sejarah tidur sambil berjalan, yang biasanya makin buruk ketika dia minum alkohol. Sebelum pembunuhan itu, ia belum pernah melakukan tindakan kekerasan dalam tidurnya. Ibu tirinya baru saja meninggal dan masih ada beberapa kejadian lain yang membuatnya stres, kata Dr Ebrahim. Ayahnya sangat dekat dengannya dan hubungan mereka sangat baik. ini pembunuhan pertama yang berkaitan dengan kelainan tidur di Inggris.

Dikatakan Ebrahim, hasil test menunjukkan Lowe benar-benar tidur saat serangan dilakukan, suatu keadaan yang disebut dengan automatism.

Automatism, secara hukum diartikan sebagai melakukan tindakan tanpa sengaja. Ada dua jenis automatism.yaitu :

1. Insane automatism, berhubungan dengan gangguan pikiran/kejiwaan, dan ;

2. non-insane automatism, berkaitan dengan faktor-faktor eksternal.

Lowe didiagnosis mengalami insane automatism, itu artinya ia tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas serangan yang mengakibatkan kematian ayahnya. Dan itu berarti bahwa dia harus dibebaskan dari tuduhan membunuh.


2.3 Mekanisme penyelesaian jika kasus sleep walking murder terjadi di Indonesia

Hakim berkewajiban memeriksa dan mengadili setiap perkara yang diajukan kepadanya. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kekosongan hukum dan untuk menjamin kepastian hukum. Begitupun jika di Indonesia terjadi pembunuhan yang dilakukan dalam keadaan tidur / sleep walking murder, maka hakim yang ditunjuk harus bisa memberikan keputusan dan menentukan apakah si pelaku dapat dipidana atau tidak.

Sebagai bahan komparatif, kita bisa melihat pertimbangan yang dilakukan persidangan di Inggris terhadap kasus sleep walking murder yang dilakukan oleh Jules Lowe, yang didakwa melakukan pembunuhan. Dari serangkaian pemeriksaan di kepolisian, dan di persidangan, ditambah lagi analisa medis dari Psikiater dan Ahli syaraf, kemudian persidangan, atas permintaan dewan juri memutuskan bahwa: “Lowe tidak bersalah atas dakwaan membunuh, dan koensekwensinya adalah membebaskan lowe serta mengembalikan hak-hak terdakwa seperti sediakala.

Sebetulnya, lowe bukanlah orang pertama di dunia yang mengaku membunuh dalam keadaan tidur. Ada beberapa kasus lainnya, seperti kasus Steven Steinberg dari Scottsdale, Arizona pada tahun 1991, yang membunuh dengan cara menikam tubuh istrinya dengan pisau sebanyak 26 kali yang akhirnya pengadilan mebebaskannnya, kasus Kenneth Park dari Toronto yang menikam ibu mertuanya dan kemudian juri menyatakan dia tidak bersalah, dan masih banyak kasus-kasus lain, baik yang benar-benar terjadi dalam keadaan tidur, maupun hanya sebagai alasan yng akhirnya tetap dihukum dengan dakwaan pembunuhan.

Salah seorang pemerhati masalah sleep waking murder yaitu Lawrence Martin, M.D., FACP, FCCP memaparkan pendapatnya sebagai berikut: Clearly the outcome in an individual case will depend on the details, the jurisdiction, the expert testimony, and other imponderables. Four questions to be asked and answered in any individual case are:

1. Did the defendant commit the crime? To have a sleepwalking defense, the answer must of course be yes. Go to No. 2.

2. Was the defendant sleepwalking at the time? This answer will depend on a) the defendant’s own testimony and b) testimony of the experts. If the answer is Yes, go to No. 3. (If no, it is not a ‘sleepwalking’ defense.)

3. Is the defendant sane at the time of trial? If the answer is yes, go to No. 4. If no, the defense is likely based on a ‘not guilty by reason of insanity’ plea. Sleepwalking would be additive to the main plea but not the principal defense.

At this point it is established that the defendant committed the act, that he was sleepwalking at the time, and that he is sane at the time of trial.

4. Should the defendant go free, go to a mental hospital, or go to jail? Everything presented at court will revolve around one of these three possible outcomes – the defense wanting mainly the first, the prosecution wanting mainly the third, and either side perhaps opting for the middle ground (mental institutition) depending on how strong or weak they perceive their case. Here the answer will depend on:

– details of the crime
– expert testimony
– jury makeup, biases, education and background
– judges’ interpretations of law

Given these variables, anything can happen with a sleepwalking defense. Stated another way, the same four cases cited above – Steinberg, Parks, Falater, Burgess – could have each ended differently if tried in a different year, a different jurisdiction, with a different jury, a different panel of experts, or before a different group of judges. This obervation is not insightful, but merely a reflection of reality.

Dari keterangan – keterangan para ahli dalam kasus lowe maupun kasus – kasus lainnya, maka dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan apabila kasus serupa terjadi di Indonesia. Menurut penulis, jika kasus sleep walking murder terjadi di Indonesia, Polisi dan Penuntut dapat menggunakan pasal-pasal pembuuhan baik itu 338, 340, maupun pasal lain yang berkaitan dengan pembunuhan. Hal itu tetap harus dilakukan agar alasan sleep walking murder tidak menyebabkan si pelaku lepas tanpa diadakan persidangan terlebih dahulu, karena alasan “ketidaksadaran” merupakan alasan yang cukup kuat untuk melepaskan diri dari “jerat hukum”.

Dan untuk membuktikannya, majelis memerlukan keterangan dari psikiater ataupun ahli syaraf yang mengerti mengenai kelainan-kelainan tidur. Mengapa bukan ahli kejiwaan atau dokter? Seperti telah disebutkan sebelumnya, sleep walking murder / automatism bukan merupakan suatu kelainan jiwa, dan bukan pula penyakit, namun hanyalah sebuah kelainan tidur. Lalu, apa dasar hukum yang harus digunakan oleh hakim jika ternyata si pelaku benar-benar dalam keadaan tidur, jika dikatakan bahwa automatism, bukanlah sebuah kelainan jiwa/sebuah penyakit?

Menurut penulis, majelis hakim tetap dapat menggunakan pasal 44(1) sebagai dasar hukum untuk membebaskan terdakwa dari tuntutan melakukan pembunuhan (pasal 338/340).

Meskipun menurut ahli kejiwaan / psikiater, ahli kedokteran menyatakan bahwa sleep walking murder bukanlah suatu kelainan jiwa/penyakit, namun majelis dapat menganalogikan hal tersebut sebagai cacatnya jiwa. Karena unsur penting yang terdapat pada cacatnya jiwa adalah hilangnya kesadaran, kemampuan untuk mengendalikan diri dan kehendaknya.

Apakah hukum positif Indonesia membenarkan hakim uttuk melakukan analogi/penafsiran terhadap suatu kasus yang dihadapkan padanya? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan undang – undang, diamana tidak ada aturan / ketentuan undang – undang yang secara tegas melarang ataupun memperbolehkan penggunaan analogi dalam suatu kasus. Tetapi pada praktknya, hakim sering menggunakan analogi dalam mengadili kasus – kasus yang tidak jelas pengaturannya. Analogi ini dapat kita lihat terutama pada kasus yang bersangkutan dengan cyber crime, karena undang – undangnya belum selesai dibuat. Biasanya alasan yang digunakannya analogi oleh hakim adalah berkaitan erat dengan undang – undang yang menyatakan bahwa hakim tidak boleh menolak perkara yang diajukan kepadanya dengan alasan apapun.

Kapan analogi diperbolehkan? Menurut Mr.Willem Zevenbergen, analogi dapat dilakukan apabila: menghadapi peristiwa yang “analog” atau mirip dengan peristiwa yang diatur oleh undang – undang.


2.4 Tindakan yang harus diambil agar pelaku tidak mengulangi perbuatan serupa.

Dalam kasus – kasus yang berkaitan dengan kejiwaan, biasanya, diktum yang yang dikeluarkan oleh majelis hakim, tidak hanya membebaskan terdakwa dari tuntutan pidana, tetapi juga selalu diikuti dengan perintah untuk mengirm si pelaku ke rumah sakit jiwa atau panti rehabilitasi sebelum dikemballikan ke lingkungan masyarakat. Maksudnya adalah jika sudah dilakukan perawatan dan sejumlah tes kesehatan secara fisik maupun jiwa, diharapakan sipelaku dapat sembuh dari kelaian atau penyakit yang dialaminya, dan jika dilepas dan dikembalikan ke lingkungan sosialnya dimana sebelumnya berada tidak menimbulkan peristiwa serupa.

Kaitannya dengan kasus sleep walking murder pada negara – negara yang telah mengalami kasus tersebut, biasanya hakim memerintahkan agar sipelaku terlebih dahulu dikirm ke rumah sakit ataupun tempat yang secara khusus menangani kealian tidur maupun kejiwaan yang pada pokoknya dalah dapat dilakukannya perawatan kepada sipelaku agar setelah keluar dari tempat tersebut tidak terjadi lagi hal serupa seperti yang diperintahkan hakim dalam kasus lowe.

Di Indonesia sendiri, undang – undang merintahkan agar pelaku yang dibebaskan karena alasan kejiwaan. Misalnya: sakit jiwa, stres, dsb dikirim ke rumah sakit jiwa paling lama 1 tahun sebelum dikembalikan ke lingkungan sosial dimana sebelumnya pelaku berada.


BAB III

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah penulis sampaikan sebelumnya, maka penulis ingin memberikan kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan ketentuan KUHP, seseorang tidak dapat dipidana jika perbuatan tersebut: 1) tak mampu bertanggung jawab yaitu jika pelaku pada saat melakukan kejahatan tersebut dalam kondisi jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit. 2) pembelaan terpaksa yaitu: perbuatan tersebut dilakukan karena ada ancaman serangan yang melawan hukum terhadap diri sendiri maupun orang lain, terhadap kehormatan susila atau benda, baik milik sendiri maupun milik orang lain. 3) dilakukan karena melaksanakan perintah undang- undang. Misalnya: eksekutor tembakan mati.

2. Cara untuk membuktikan bahwa seseorang telah melakukan pembunuhan dalam keadaan tidur / sleep walking murder adalah dengan melakukan sejumlah pemeriksaan medik yang dilakukan oleh orang yang ahli dibidang kejiwaan dan kelainan tidur serta dilihat juga sejarah dari sipelaku, apakah memang benar bahwa dia memiliki riwayat tidur sambil berjalan / sleep walking.

3. Untuk menyelesaikan kasus sleep waling murder jika terjadi di Indoneisa adalah sama dengan poin ke-2 diatas. Namun sebelumnya petugas, dalam hal ini polisi selaku penyelidik dan penyidik harus bisa tetap menggunakan ketentuan tentang pembunuhan yang biasanya digunakan, seperti pasal 338 dan 340 KUHP. Dan yang paling penting dari semua itu adalah hakim jika memutuskan untuk membebaskan tedakwa, maka dia harus menganalogi pasal 44(1) dengan kelainan tidur, sehingga sipelaku dapat dibebaskan

4. Tindakam yang harus dilakukan agar sipelaku tidak menimbulkan peristiwa yang sama jika dia dibebaskan kedalam lingkungan sosialnya, maka hakim dapat memerintahkan agar sebelum pelaku dikembalikan ke lingkungan sosialnya, agar pelaku”diisolasi” terlebih dahulu di rumah sakit atau suatu tempat yang dapat memulihkan / menyembuhkan pelaku dari kelainanya tersebut

3.2 Saran

Berdasarkan Pembahasan dari permasalahan dan kesimpulan yang telah penulis uraikan diatas, maka penulis ingin memberikan saran atau masukan yang relevan terhadap permasalahan tersebut yaitu:

1. Sebaiknya, dalam RKUHP yang sedang dibahas, dicantumkan pula kejelasan bahwa pembunuhan karena kelainan tidur / sleep walking murder

2. Sebaiknya, pelaku sleep walking murder meskipun telah 1 tahun dan dilepas dari rumah sakit, masih tetap di awasi.

DAFTAR PUSTAKA

Alatas, M.J. Diktat Mata Kuliah Pengantar Ilmu Hukum Univeristas Internasonal Batam. (2003)

Amandemen Undang – Undang Dasar 1945

Kansil, C.S.T Pengantar Ilmu Hukum dan tata hukum indonesia. Jakarta, Balai Pustaka, (1989)

Marti, Lawrance http://www.lakesidepress.com/pulsmonary/Sleep/sleep-murder.htm

Smith, Laura How sleep walking can lead to killing. http://news.bbc.co.uk/1/hi/uk/4362081.stm

Moeljatno. KUHP:Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, cet.22. Jakarta, Bumi aksara, (2003)

The sleep walking aliby, http://sleepdisorders.about.com/od/sleepwalkingandtalkin1/a/alibi.htm

Undang – undang No. 14 tahun 1970 jo. Undang – Undang No.4 tahun 2004

Automatism merupakan istilah kedokateran yang secara hukum diartikan sebagai melakukan kejahatn tanpa disengaja. Sumber: http://news.bbc.co.uk/1/hi/uk/4362081.stm

* Amandemen kedua tahun 2000 ditambah satu bab dengan 10 pasal

Lihat: Amandemen UUD’45 (pasal 28 A UUD’45).

Moeljatno, KUHP:Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, cet.22.Jakarta,Bumi aksara, 2003. hal:23 pasal 49

Ibid. Hal 24 Pasal 50

Jules lowe adalah Pria asal Greater Manchaster, Inggris, kepada polisi mengatakan ia menyerang ayahnya, Eddie, yang berusia 82 tahun sewaktu dirinya tidur dan sama sekali tidak ingat insiden yang terjadi Oktober 2003 itu. Sumber: http://news.bbc.co.uk/1/hi/uk/4362081.stm

Lihat: Undang-Undang No.14 tahun 1970 jo. Undang-Undang No.4 Tahun 2004. Pasal 16 (1)

Kansil, C.S.T. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indoensia. Jakarta, Balai Pustaka, 1989, Hal.70

Lihat: http://sleepdisorders.about.com/od/sleepwalkingandtalkin1/a/alibi.htm

Ibid

Lihat: http://www.lakesidepress.com/pulsmonary/Sleep/sleep-murder.htm

Alatas, M.J. (2003) Diktat Mata Kuliah Pengantar Ilmu Hukum Univeristas Internasonal Batam. Halaman 108

Moeljatno, KUHP:Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, cet.22.Jakarta,Bumi aksara, 2003. hal:22 pasal44(2)

Ibid

Ibid. Hal.23 pasal 49

Ibid. Hal 24 Pasal 50

Alat Bukti Hukum Perdata berupa: Saksi, Persangkaan , dan Keterangan ahli


1. Saksi

Alat bukti saksi diatur dalam Pasal 168-172 HIR, 306-309 RBG. Tidak dalam semua hal dapat didatanglan saksi. Misalnya tentang persatuan harta kekayaan dalam perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan perjanjian kawin ( Pasal 150 BW ), perjanjian asuransi hanya dapat dibuktikan dengan Polish (pasal 258 KUHD). Kesaksian adalah kepastian yang diberikan kepada Hakim di persidangan tentang peristiwa yang disengketakan dengan jalan pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh orang yang bukan salah satu pihak dalam perkara, yang dipanggil dipersidangan.

Keterangan saksi harus diberikan secara pribadi dan lisan di persidangan dan tidak boleh diwakilkan. Pendapat atau dugaan khusus yang timbul karena akal (ratio concludendi) tidak dianggap sebagai kesaksian (Pasal 171 ayat 2 HIR, 308 ayat 2 RBG, 1907 BW).
Kesaksian bahwa penggugat atau tergugat dalam keadaan sedih, mabuk, dsb tidak boleh diterima sebagai kesaksian, karena hal tersebut hanya merupakan kesimpulan atau dugaan saja. Kesaksian hanya boleh diberikan oleh orang yang mengetahui dengan mata kepala sendiri (ratio sciendi).Dan keterangan saksi yang sumbernya bukan benar-benar dialami sendiri, didengar secara langsung oleh saksi atau dengar dari berita orang lain, tidak dianggap sebagai keterangan saksi (Testimonium de auditu). Akan tetapi, kesaksian de auditu dapat dipergunakan sebagai sumber Persangkaan. Keterangan seorang saksi saja tanpa alat bukti lainnya tidak dianggap sebagai pembuktian yang cukup: seorang saksi bukanlah saksi, unus testis nullus testis (Ps. 169 HIR, 306 RBG, 1905 BW).

Pasal 145 HIR:

(1). Yang tidak dapat didengar sebagai saksi, adalah :

a. keluarga sedarah dan keluarga semenda menurut keturunan yang lurus dari salah satu pihak.

b. Suami atau istri salah satu pihak, meskipun telah bercerai

c. Anak-anak yang umurnya tidak diketahu dengan benar bahwa mereka sudah lima belas tahun

d. Orang gila, walaupun kadang- kadang ingatannya kembali

(2) Akan tetapi keluarga sedarah atau keluarga semenda tidak boleh ditolak sebagai saksi karena keadaan itu dalam pekara tentang keadaan menurut hokum sipil daripada orang yagng berperkara atau tentang suatu perjanjian pekerjaan.

(3). Orang yang tersebtut dalam pasal 146 (1) a dan b, tidak berhak minta mengundurkan diri dari memberi kesakasiaan dalam perkara yang tersebut dalam ayat dimuka.

(4.) Pengadilan negeri berkuasa akan mendengarkan diluar sumpah anak-anak atau orang-orang gila yang kadang-kadang terang ingatannya yang dimaksud dalam ayat pertama. Akan tetapi keterangan mereka hanya dipakai sebagai penjelasan saja.

Kewajiban saksi

  1. menghadap pengadilan. Dan apabila 2kali tidak datang, maka tiap ketidakhadirannya dikenakan denda penggantian biaya pemanggilan. Dan akan dipanggil paksa melalui polisi untuk pemanggilan yang ketiga.
  2. bersumpah. Saksi apabila tidak mengundurkan diri sebelum memberi keterangan harus disumpah menurut agamanya (Ps. 147 HIR, 175 RBG, 1911 BW jo pasal 4 S.1920 no. 69) dihadapan kedua belah pihak di pengadilan.
  3. memberi keterangan. Pertanyaan yang akan diajukan harus melalui hakim, jadi hakim dapat menolak pertanyaan yang menurutnya tidak relevant

2. Persangkaan

Pada dasarnya persangkaan adalah alat bukti yang bersifat tidak langsung. Misalnya, pembuktian ketidakhadiran seseorang pada suatu waktu ditempat tertentu dengan membuktikan kehadirannya pada waktu yang sama ditempat lain. Menurut ilmu pengetahuan persangkaan merupakan bukti yang tidak langsung dan dibedakan :
  1. Persangkaan berdasarkan kenyataan (feitelijke, rechterlijke vermoedens, atau paesumptiones facti). Hakimlah yang menentukan apakah mungkin dan seberapa jauhkah kemungkinannya untuk membuktikan suatu peristiwa tertentu dengan membuktikan peristiwa lain.
  2. Persangkaan berdasarkan hukum (wettelijke atau rechts vermoedens, praesumptiones juris). Undang-undanglah yang menetapkan hubungan antara peristiwa yang diajukan dan harus dibuktikan dengan peristiwa yang tidak diajukan. Persangkaan berdasarkan hokum ini dibagi dua:

  • praesumptiones juris tantum, yaitu persangkaan berdasarkan hukum yang memungkinkan adanya pembuktian lawan.
  • praesumptiones juris et de jure yaitu persangkaan yang berdasarkan hukum yang tidak memungkinkan pembuktian lawan.


Persangkaan diatur dalam pasal HIR Pasal 172, RBG psl 310, dan BW pasal 1915-1922. Menurut pasal 1915 BW persangkaan adalah kesimpulan-kesimpulan yang oleh UU atau hakim ditarik dari suatu peristiwa yang terang nyata kearah peristiwa lain yang belum terang kenyataanya


3. Keterangan Ahli


adalah keterangan pihak ketiga yang objektif dan bertujuan untuk membantu hakim dalam pemeriksaan guna menambah pengetahuan hakim sendiri. Pada umumnya hakim menggunakan keterangan seorang ahli agar memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam tentang sesuatu yang hanya dimiliki oleh seorang ahli tertentu, misalnya tentang hal-hal yang bersifat tekhnis, dsb.

Keterangan ahli diatur dalam pasal 154 HIR, 181 RBG, 215 RV.

Perbedaan saksi dan saksi ahli / ahli:

  • kedudukan seorang ahli dapat diganti dengan ahli lain untuk memberi pendapatnya. Sedangkan saksi pada umumnya tidak, karena saksi tidak dapat digantikan dengan orang lain.

Jika dalam saksi biasa ada asas satu saksi bukan saksi (unus testis nullus testis ) maka tidak demikian dengan saksi ahli.

Seorang ahli pada umumnya mempunyai keahlian tertentu yang berhubungan dengan peristiwa yang disengketakan, sedangkan saksi untuk peristiwa yang bersangkutan tidak diperlukan mempunyai keahlian.

Seorang saksi memberikan keterangan atas apa yang dialaminya sendiri sebelum terjadi proses, sedang ahli memberikan pendapat atau kesimpulannya tentang suatu peristiwa yang dipersengketakan selama terjadinya
proses.

Saksi harus memberikan keterangan secara lisan, keterangan saksi yang ditulis merupakan alat bukti
tertulis, sedang keterangan ahli yang ditulis tidak termasuk dalam alat bukti tertulis

Hakim terikat untuk mendengar saksi yang akan memberikan keterangan tentang peristiwa yang relevant,
sedangkan mengenai ahli, hakim bebas untuk mendengar atau tidak.

Sejumput kesadaran

Malam yang semakin gulita….
sunyi sepi membahana…….
Langit bertabur bintang….
dengan sedikit mendung yang mengawang………..

tampak dari kejauhan,
seseorang berjalan terseok-seok sambil membawa beban

Semakin dekat-semakin dekat, jelaslah sudah…
seorang yang sudah lewat tengah baya, dengan sorban diatas kepalanya,
rambutnya sudah memutih semua dan sebagian rontok bersamaan dengan
berjalannya dia, kerut merut lipatan kulit di dahinya yang sudah banyak,
pandangan matanya menampakkan beban beratnya kehidupan, kulit dibawah
kelopak matanya membentuk tiga jalur lipatan.
Pipinya cekung dengan tulang pipi yang menonjol, Alis matanya yang
membentuk golok melintang dipadukan dengan dua daun telinganya yang agak
lebar.
Perawakannya kurus kering, tanpa berpakaian, sehingga tampak seolah
hanya tulang yang dibungkus kulit saja. Tulang iganya di kanan kiri
terlihat jelas dari luar, dengan memakai celana hitam yang lusuh
potongan sedengkul, si orang tua itu mengangkat sebuah karung goni besar
di atas punggungnya.

Dengan terseok-seok dia melangkahkan kakinya di kegelapan malam.

Dikejauhan tiba-tiba terdengar ringkikan kuda memecah keheningan malam
“…hhhiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkk………..hiiirrrrr !!

Seorang penunggang kuda tampak dikejauhan, memacu, menghentak dan kadang
melecut perut kudanya. Tambah lama, semakin dekat jaraknya dengan si
bapak tua.

“MINGGIIRRRRR……..!”…teriak si penunggang kuda, tetap tidak
mengurangi kecepatan berkudanya.

Si tua yang memanggul beban berat dipunggungnya, seolah tidak
mendengarkan atau memang tidak mendengar teriakan penunggang kuda itu.

Semakin dekat..jarak semakin dekat…dan semakin dekat…..dan…
“BRAASSSSSSSS>>>>>BRRRUUAKKKA<<<>>>>>>>>:”.

Tabrakan tak dapat dielakkan lagi,
Karung goni di atas punggung si orang tua terlempar beberapa meter,
dia sendiri tersungkur, diujung mulutnya meneteskan darah, dipeganginya
dengkul kakinya yang juga lecet-lecet sedikit berdarah.
Tidak ada suara mengaduh, hanya tangannya yang terus mengurut-urut
kakinya yang sepertinya kesakitan.

Si penunggang kuda yang tidak terjatuh melompat dari kudanya turun dan
mendekati si orang tua itu.
Bukannya minta maaf, malah berteriak marah dan mengayunkan kedua
kepalannya pada wajah si orang tua,
“Kamu itu sudah tahu aku bilang minggir kok ndak mau minggir..dasar tua
bangka bangkotan…!!”..”Duess..duess..”, beberapa pukulannya mendarat
di wajah dan perut si tua.
Darah keluar semakin deras dari mulutnya.
Tak terdengar rintihan atau keluhan.

Sinar bulan yang mulai tampak bercahaya,
sekilas cahayanya mengenai pakaian si penunggang kuda.
Tampak sosok yang kekar terlatih dengan helm di atas kepalanya dan
seragam seorang prajurit perang. Di atas bahunya ada tanda…beberapa
tanda yang menunjukkan dia adalah seorang panglima.

Masih terdenagr beberapa kali gerutuan si penunggang kuda, dia melompat
kembali naik kekudanya dan menghentakkan kudanya bergerak cepat menuju
istana kerajaan.

Beberapa waktu kemudian,
Setelah sampai di depan pintu kerajaan, dia melompat turun dari kudanya.
Kudanya ditambatkan ditempat biasanya ia meletakkan kuda.
Dan dengan langkah tegap, ia berjalan menuju pintu gerbang ruang
kerajaan.

Di kanan kiri pintu, ada dua pengawal kerajaan yang berdiri tegak, siap
dengan tombaknya, menanyakan keperluan dari sang panglima, kemudian sang
panglima disuruh menunggu sejenak diluar. Salah seorang dari penjaga
pintu masuk untuk melaporkan kedatangan sang panglima pada rajanya.

Agak lama kemudian, kira-kira sepenanakan nasi, sang raja keluar dan
duduk disinggasana, sementara si panglima baru saja dipersilahkan untuk
masuk oleh penjaga pintu gerbang.
Sang raja manggut-manggut di atas singgasananya mendengarkan laporan
sang panglima, sementara sang panglima dengan takzim duduk dibawah
menyampaikan laporannya sepatah demi sepatah kata.

Tiba-tiba keasyikan mereka terganggu dengan terbukanya pintu gerbang
ruangan kerajaan itu.
Angin berhembus kencang mengiringi masuknya sosok tua yang sudah kita
kenal tadi. pak tua yang membawa karung goni dipunggungnya.
Melihat pak tua yang berdiri dimuka pintu, mendadak sontak sang raja
tersenyum dan dengan tergopoh-gopoh setengah berlari menghampiri si tua
dengan penuh sikap hormat dan tunduk.
Pucatlah wajah si panglima melihat kejadian itu.
tubuhnya bergetar hebat, lemas seolah seluruh tulangnya meleleh melihat
pemandangan itu.
Orang tua yang tadi disuruhnya minggir, yang tidak mau minggir akhirnya
ditabraknya.
Orang tua yang membuatnya marah karena tidak mau minggir, bukannya dia
minta maaf, malahan si orang tua dipukuli sampai darah menetes, sampai
darah mengucur deras.
Kini ada dihadapannya, dan sebuah keheranan memenuhi benaknya.
Dirinya seorang panglima saja untuk menemui sang raja butuh waktu
menunggu, disuruh menunggu cukup lama. Sedangkan si orang tua itu
kelihatannya tidak dihalangi sama sekali oleh penjaga pintu, dan sang
raja sendiri menyambut dengan tersenyum dan dengan menghormat takzim
pada si orang tua.
Siapakah si orang tua yang sangat dihormati oleh raja ini ?
Siapakah ?
Siapakah orang tua yang telah menjatuhkan seluruh keberanianku sebagai
seorang panglima ini ?
siapakah ?
Siapakah orang tua yang telah membuat aku malu dengan kesabarannya dan
dengan kepasrahannya ini ?
Siapakah ?
Sekiranya dapat si panglima menyembunyikan wajah dan dirinya dari
hadapan si tua, tentulah akan dilakukannya.

Jantung si panglima serasa mau copot, dan darah seolah berhenti
mengalir, mata membelalak, manakala sang Raja bukan saja menghormat,
melainkan mendudukkan si orang tua disinggasananya sementara sang raja
memilih duduk dikursi sebelahnya. Sementara ia sendiri, seorang panglima
kerajaan, hanya duduk di atas karpet, dibawah singgasana.
Si orang tua itu menolak untuk duduk disinggasana, ia memilih duduk
disebelah singgasana raja.
Seolah tak pernah terjadi suatu apa dengan si panglima, si orang tua itu
tersenyum ramah dengan penuh ketulusan padanya.

Suara sang raja memecah keheningan,
“Panglimaku, belum kenalkah engkau dengan beliau ? guruku ? penasehat
kerajaan ? Sulthon auliya` Ibrahim bin Adham ?”.

………..

…………

Ditulis dalam Renungan. Tag: . Leave a Comment »